Isnin, Mac 16, 2009

Perempuan dan Film

I found this in Dian Sastro's blog. Salut to her for this great article, hope she wouldn't mind me sharing it here, kerna harusnya lebih banyak perempuan (dan, lelaki) yang membaca ini. Enjoy.


Perempuan dan Film
Notes : ini tulisanku yg semula dibuat sebagai salah satu dari rangkaian promo film Drupadi, Namun karena satu sebab, tidak jadi dipublikasikan dan aku putuskan untuk dmuat di blog saja. Terima kasih kepada mbak Leila S. Chudori yang membantu mengedit dan merapikan bahasa :)

oleh Dian Sastrowardoyo

Sebagai seorang perempuan saya menyadari betapa dekatnya saya dengan film. Bukan hanya sebagai pekerja film, tetapi juga sebagai penikmat film sebagai oksigen hidup saya. Bagi saya, banyak sekali fase dalam kehidupan seorang perempuan yang bisa dirayakan dengan menyaksikan sebuah film. Saat saya tengah ’down tempo’ (ini terminologi yang saya gunakan bersama teman-teman ketika kami memerlukan ’asupan semangat’) misalnya, saya pasti menghabiskan waktu luang saya untuk menyaksikan sederet feel good movie bersama teman-teman saya. Inilah serangkaian film yang memang dibuat untuk pasar penonton perempuan yang sedang merasa perlu diingatkan bahwa mereka pasti bisa melalui semuanya.

Serangkaian judul film yang pernah menjadi menu girls movie night kami antara lain adalah: The Sweetest Thing (Roger Kumble, 2002 ), Shop Girl (anand tucker 2005,) Sex And The City (Michael Patrick King, 2008) bahkan Charlie’s Angels : the movie, (McG 2000). Walaupun itu adalah film-film ringan, namun cukup efektif untuk membuat kami lebih optimistis saat membaca credit title di penghujung film. Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup.

Namun, selain pengisi jiwa, di dunia industri, film juga memiliki pengaruh yang luar biasa. Jika kita meneropong gaya hidup perempuan melintasi masa misalnya, film dapat menjadi sumber yang sangat mudah untuk dijadikan referensi. Dari perspektif perkembangan fashion dan gaya hidup, kita sudah bisa menjejerkan beberapa judul film yang berhasil menangkap detail fashion dan gaya hidup yang sangat menarik seperti The Devil Wears Prada (David frankel,2006); Sex & The City (Michael Patrick King, 2008), Marie Antoniette (sofia coppola, 2006), Darlings, pret a porter : ready to wear (robert altman, 1994) dan Annie Hall (Woody Allen, 1977). Film telah menjadi artefak budaya yang selalu menjadi ’teks’, dimana kita di dalamnya, kita ’membaca’ atau memahami lebih jauh mengenai kebudayaan manusia. Dalam hal ini, ’teks’ dalam film kita lihat sebagai isi (content) yang kompleks dari kejadian-kejadian (gambar, kata, bunyi) yang berhubungan satu sama lain didalam sebuah konteks yang bisa menjadi cerita atau narasi. Namun marilah kita coba melihat lebih dalam lagi tentang bagaimana film selama ini mempersepsikan perempuan.

Perempuan sebagai objek di dalam Film
Apa yang kita bayangkan dari film-film seperti James Bond, Scream, I Know What You Did Last Summer, American Pie, Bourne Ultimatum? Film-film ini menggambarkan perempuan dengan keindahan fisik yang luar biasa (yang biasanya jauh sekali dari penampilan perempuan sehari-hari), dengan wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna, dan dengan baju dan penampilan yang sengaja memfokuskan pada keindahan tubuh tertentu. Buah dada yang besar, kaki luar biasa jenjang dan rambut bak mayang terurai adalah penampilan dari figur perempuan yang menjadi resep membuat film yang laku di pasaran. Di dalam film, perempuan sering sekali digambarkan sebagai pemanis, penghias, dan tidak memiliki urgensi kepentingan peran apapun terhadap jalan cerita keseluruhan. Mereka muncul sebagai sosok yang perlu diselamatkan atau ditolong. Ini adalah sudut pandang pembuatan film yang sangat patriarkis, atau lebih parah lagi bersifat phallocentric. Film-film ini menggunakan sudut pandang laki-laki. Maksudnya adalah bahwa yang membuat film ini mengandaikan bahwa yang menonton film itu adalah laki-laki semua, atau cerita yang digarap menggunakan cara pikir laki-laki. Yang menarik dalam hal ini adalah: bagaimana penonton film menyaksikan film yang berlogika maskulin, ini berarti membuat perempuan membaca teks yang tidak bisa menggambarkan perempuan secara utuh. Perempuan dilihat hanya sebatas definisi fisiknya saja: memiliki tubuh dengan buah dada, pinggang yang kecil, kaki yang ramping dan rambut panjang. Sementara perempuan sebenarnya jauh lebih plural daripada definisi yang sederhana itu. Ada banyak sekali dimensi kehidupan, karakter dan cara pikir perempuan yang tentunya tidak akan dipahami oleh sang pembuat film yang maskulin itu, karena tentunya mereka tidak pernah mempunyai pengalaman hidup sebagai perempuan.

Yang kurang menguntungkan bagi kita adalah para penonton perempuan saat menonton film sejenis ini menjadi terbiasa membaca diri nya sendiri dengan sudut pandang laki-laki; dari sebuah sudut pandang yang meredusir atau menyederhanakan sosok perempuan. Perempuan hanya didefinisikan dari fisik belaka. Pada gilirannya, kitapun mengukur ke-‘perempuan’an kita sebatas penampilan fisik saja, sehingga kita sebagai kaum perempuan di zaman modern ini jadi terlalu repot dan terlalu sibuk mendefinisikan diri kita sebagai perempuan melalui segi penampilan fisik. Karena kita terlanjur memiliki peikiran bahwa definisi fisik adalahlah satu-satunya definisi yang menjadikan kita perempuan, maka kita terlalu sadar diri (self-conscious) terhadap bentuk tubuh kita(apakah kulit saya cukup normal untuk kulit ‘perempuan’? rambut saya cukup ‘perempuan’? apakah bentuk kaki atau lengan saya cukup ‘perempuan’? apakah buah dada saya cukup ukurannya sehingga cukup ‘sah’ untuk menjadikan saya ‘perempuan’?). Tanpa kita sadari kita terlalu banyak menghabiskan energi, waktu, dan uang demi merawat bahkan memodifikasi bentuk tubuh yang kita miliki. Kita lupa dengan multi dimensi lain yang dimiliki oleh perempuan.

Namun kabar baik bagi para penonton perempuan adalah, saat ini telah lahir sineas perempuan yang memiliki wewenang untuk menentukan isi film yang menggambarkan komplesitas perempuan.

Perempuan yang menciptakan teks tentang perempuan.
Seorang sutradara perempuan, penulis skenario perempuan, produser perempuan memiliki kuasa atau wewenang untuk menciptakan representasi perempuan yang melawan sistem patriarkis. Melalui film-film seperti ini, para penonton perempuan dapat ‘membaca’ teks yang karya sineas perempuan juga. Kita jadi dapat lebih mengerti diri kita sebagai perempuan dengan melihat bagaimana perempuan lain mencoba menulis tentang dirinya atau tentang apa yang dia pahami tentang perempuan, tentunya lengkap dengan berbagai aspek yang multi dimensional akan menjadi seorang perempuan.
Film-film yang mampu berbicara yang lahir dari sineas perempuan adalah The Piano (Jane Campion, 1993), Monster (Patty Jenkins, 2003), Virgin Suicides(Sofia Coppola, 1999), Lost in Translation (Sofia Coppola, 2003), Monalisa Smile (mike newell, 2003) ,Frida (Julie Taymor,2002)

Sementara beruntunglah kita, di Indonesia walaupun dunia film masih tergolong baru lahir, banyak juga tokoh sineas perempuan yang langsung ikut mewarnai menu perfilman nasional: Nan T. Achnas dengan film Pasir Berbisik (2001), Nia Dinata dan kawan-kawan dengan rangkaian film pendek “Perempuan Punya Cerita (2007).

Dengan dosis sehat menonton film perempuan seperti ini, kita jadi tidak terjebak dalam definisi dangkal yang itu-itu saja dalam memaknai diri kita masing-masing sebagai kaum perempuan. Kita juga dapat lebih menghormati ke’perempuan’an kita yang lebih utuh yang lebih lengkap dengan multi dimensi kehidupan kita dengan berbagai peran dan tantangannya. Kita dapat lebih berani menciptakan definisi diri kita sendiri yang lebih independen, tidak lagi bergantung pada peradaban patriarki untuk memberikan definisi mereka yang terbatas untuk menandai kita perempuan, tidak lagi tunduk dengan pendapat yang diberikan dari luar tetapi lebih mandiri untuk menciptakan pendapat dari dalam. Mari kita membebaskan diri dari sistem penandaan maskulin, mari kita ciptakan sendiri logika dan cara berpikir feminin yang bebas dari judgement, dogma, cara pandang yang misoginis.

____
beberapa film unik pilihan Dian Sastrowardoyo untuk dinikmati bersama cocktail & nibbles kegemaran di rumah:
1. The Science of Sleep, Michel Gondry,2006
2. Eternal Sunshine of the Spotless Mind Michel Gondry, 2004,
3. Little Children, todd field 2006
4. Juno, Jason reitman, 2007. ellen page bermain cemerlang, dan script nya yang ditulis oleh Diablo Cody bagus sekali, tidak tendensius
5. Persepolis, Vincen paronnaud dan marjane satrapi, 2007, animasi,biography, drama, diangkat dari grafik novel berjudul sama karya marjane satrapi, tentang kisah hidupnya. Poignant coming-of-age story of a precocious and outspoken young Iranian girl that begins during the Islamic Revolution.
6. The Darjeeling limited, Wes Anderson 2007 action, comedy, drama pemain owen nilson dan adrien broody
7. The fall, tarsem Singh 2006, action, drama, fantasy : anak kecil yg jadi Alexandria ( catinca vutaru) akingnya natural dan fyi Bali menjadi salah satu lokasi syutingnya, menggambarkan panorama keindahan ubud dan tari kecak
8. Sideways, Alexander payne, 2004 comedy, drama, romance
9. Into the wild. Sean penn 2007
10. La vie en rose (la mome) Olivier dahan, 2007, biografi, drama, musical, menceritakan kisah hidup penyanyi legendaries perancis, edit piaf.marrion cotillard memperoleh oscar sebagai artis terbaik dalam film ini
11. I’m not there, todd Haynes, 2007 biography drama musical, tentang bob Dylan Ruminations on the life of Bob Dylan, where six characters embody a different aspect of the musician’s life and work. Plotnya sedikit rumit dan melompat-lompat, tapi di sini kita bisa melihat akting cate blancett sebagai bob Dylan
12. Berbagi suami, nia dinata 2006, drama. 3 cerita dengan benang merah poligami
13. Memories of matsuko (kiraware matsuko no issho), tetsuya nakashima, 2006, drama
14. Running with scissors, ryan Murphy 2006, drama
15. Rindu kami padaMu, garin Nugroho, 2004, drama, tentang kehidupan di sebuah pasar


Nota 1: nice one, Dian!
Nota 2: Teringat seorang rakan yang ada hati nak memadukan saya dengan Dian Sastro. Hahaha...

3 ulasan:

shamamia berkata...

dengar lah wahai semua llk! :D

:P

btw, from the list, sy baru nonton juno dan berbagi suami aja! harus donlod neh :D

ull berkata...

sesuatu yg jarang sekali terlintas di pikiran..menarik!

papaIndah berkata...

1. I’m not there, todd Haynes, 2007 biography drama musical, tentang bob Dylan Ruminations on the life of Bob Dylan, where six characters embody a different aspect of the musician’s life and work. Plotnya sedikit rumit dan melompat-lompat, tapi di sini kita bisa melihat akting cate blancett sebagai bob Dylan

sapa ada dvd berjudul spt diatas? X jumpa smpai skarang.
Suke sgt autobiography penyanyi2 nih.

March 2017 - 'Ada Apa Dengan Jogja?' (Part 2.5)

Honestly tho, I have nothing much to say about the show, except what everyone would already know...It was AH-MAY-ZINGGGG!!! *fangirling mod...