Isnin, Julai 13, 2009

Let's Dance


Iseng-iseng. Itulah awal terbentuknya The Dance Company (TDC). Setelah bersama-sama: Nugie, Pongky, Ario, dan Baim, dalam acara Climate Change Conference di Bali tahun 2007 tercetuslah ide untuk membentuk boyband semacam New Kids On The Block. Judul band diperoleh saat berada dalam bus melewati sebuah toko dengan nama Dance Company.

Alih-alih membuat boyband, para vokalis ini pada akhirnya malah membentuk sebuah band. “Semua terjadi begitu saja. Kita pun tidak pernah mengonsep kalau kita harus gila-gilaan, harus kompak,” kata Pongky. Kecuali dalam hal pakaian, mereka sangat memperhatikan dan membuat konsep yang serius.
“Kita ingin tampil rapi, branded, walaupun ternyata tabungan kosong,” timpal Nugie tertawa. “Budget kita itu 50 juta, tapi kalau ditawar 15 (juta)? Berangkat! He he he.”

Untuk menunjukkan keunikan band ini para personilnya juga berganti nama. Nugie sebagai Mbot, penggebuk drum; Baim sebagai Bebe, pemetik gitar; Ario sebagai Riyo, vokalis utama; dan Pongky sebagai Wega, pembetot bas. Mereka menggunakan nama kecil, karena menurutnya anak kecil identik dengan kejujuran, kepolosan, dan spontanitas bermusik. “Jadi musik kita kaya,” jelas Baim.

Tampil kompak dengan mengenakan kaca mata hitam, para bapak ini terlihat sangat akrab dan penuh canda. Tidak jarang mereka saling melemparkan ejekan mengenai band-band mereka terdahulu. Walau terlihat nyeleneh, mereka mengaku serius dengan TDC. Buktinya, Ario menolak beberapa tawaran FTV, Baim dan Nugie meninggalkan proyek solo-nya sebentar, dan Pongky melonggarkan waktunya dari Jikustik. Asal tahu saja, jadwal job TDC ternyata sudah penuh hingga Agustus.

Mengusung musik rock ‘n roll dalam lagu andalannya, Papa Rock n’ Roll, mereka mengatakan rock n’ roll memiliki unsur fun yang paling banyak. TDC pun tidak ingin disamakan dengan band rock n’ roll lain. “Kita tidak meniru band-band lain, lho. Kita hanya terinspirasi The Beatles, The father of rock n roll,” kata Pongky. “Mimpinya, kita bisa jadi band indonesia pertama yang setara dengan The Beatles,” tambah Nugie.

Istri-istri mereka ternyata juga bersahabat. “Bahkan dokter kandungan istri-istri kami saja sama. Parah kan? Begitu pula yang memilih Riyo sebagai lead vocal. Tahu kenapa?” tanya Pongky. Tiba-tiba dari sudut tempat istri-istri mereka duduk
terdengar jeritan “Paling ganteng!” Jeritan ini diamini ketiga personil TDC. Ario hanya tersenyum.

Yang unik juga, TDC yang bernaung di bawah label Nagaswara, mengaku hanya dibayar dengan Blackberry. “Kita tidak butuh uang dari Nagaswara, tapi dari masyarakat. Tapi royalti, sih, tetap dibayar pakai uang,” kata Baim terkekeh. Dengan begitu TDC ingin menunjukkan “kelasnya”, “Kami ini sudah punya keluarga, tapi masih bisa senang-senang dalam bermusik. Dan menurut kita rock n’ roll itu adalah saat kita bisa membiayai keluarga, bisa beliin istri tas, bukannya yang mabok-mabokkan dan pakai drugs. Rock n roll itu the real life,” imbuh Baim. Kali ini sangat serius.

Source: Tabloid Nova



Wow.

Nugie. Pongki. Baim. Aryo??!

Wow. Wow. Wow. Ajigile. Penasaran buanget gimana musiknya!

Wow.


nota: pengakuan. I have always had a HUGE crush on Aryo Wahab. Aduhhh...

Tiada ulasan:

March 2017 - 'Ada Apa Dengan Jogja?' (Part 2.5)

Honestly tho, I have nothing much to say about the show, except what everyone would already know...It was AH-MAY-ZINGGGG!!! *fangirling mod...