Jumaat, Oktober 23, 2009

Listen

Membaca blog Zahiril Adzim pagi ini membuat pipi rasa tertampar. Perit. Simple saja topiknya, tentang kebolehan mendengar, bukan setakat didengari.

Saya petik sedikit cuplikan dari blognya,

Tak usah dibayangkan chemistry yang indah, jika tidak mendengar.
Tak usah diucapkan kata cinta, jika tidak mendengar.
Tak usah dirancangakan masa depan, jika tidak mendengar.
Tak usah dirasakan lafaznya penyatuan, jika tidak mendengar.
Tak usah direncanakan kebahagiaan, jika tidak mendengar.

Kadang kita mempunyai banyak cerita untuk dikongsikan, kadang mempunyai bertan-tan pendapat untuk diutarakan, sehingga cara komunikasi bercambah dengan hebatnya, tak cukup sekadar bertemu muka, panggilan telefon, sms, chat, Friendster, Myspace, Facebook, Twitter...blog! Hanya untuk memperdengarkan cerita.

Maafkan sering lupa mengucap TERIMA KASIH kepada kalian yang sering sudi mendengarkan saya disini. Without you, saya sama seperti orang yang berteriak-teriak sendiri di dewan kosong. Bergema, lantang...tapi tak ada yang mendengarkan.

TERIMA KASIH!

Encik Pacar, yang sering saya paksakan untuk dengari saya, namun seringkali saya terlupa, dia juga mahu didengar.

Maafkan saya. Saya tahu kemaafan kamu ada segudang banyaknya buat saya, dan saya boleh ambil kapanpun saya mahu, tapi saya mohon kemaafan kamu, seikhlasnya.

And please, do remind me if I forget to listen again.

Because we both know it'll be a rocky bumpy road ahead but it's worth fighting for.


Saat didengari di majlis persandingan Peon & Zeff.



p.s: Encik Zahiril, thank you for the reminder.
http://zahiriladzim.blogspot.com/2009/10/listening-to-mendengar.html

1 ulasan:

kitt berkata...

listening is one of the most difficult thing to do in this fast, globalized, and modern world. Keep on listening, and you'll be listened to.

#27

My current favourite writer: Fiersa Besari. Sederhana, cerdas dan mengena. If you haven't read any of his works, you should. ...