Jumaat, Januari 08, 2010

Rambling

i wonder.

Everytime we are in a relationship, although we are not so completely in love with that person, selalunya kita akan cuba yang terbaik, bukan?

Beri yang terbaik.

Ucap yang terbaik.

Sometimes it works out. Sometimes doesn't.

Tapi mau dikemanakan segala kata yang pernah terucap? Segala janji yang pernah terlafaz? Segala rasa yang sempat singgah?

Terus, apabila rasa itu sudah hilang ditelan angin bayu membawa diriku, dan datang sebuah rasa yang lebih besar, lebih indah, lebih meruah...

how?

Analogikan begini. Hujan lebat datang mencurah. Kita kata, wah, belum pernah hujan selebat ini seumur hidup! Tak lama kemudian, hujan yang lebih lebat sehingga air bah melimpah...mestilah kita kata, wah, hujan ini lebih lebat! Belum pernah hujan selebat ini seumur hidup!

Maka dosakah kita menuduh hujan yang awal tadi sebagai lebat? Bohong ke?

Tapi bukankah segala pengalaman itu yang menyedarkan kita, membuat kita menimbang tara, membuat kita bisa menghargai, seadanya?

Membuat kita sedar, kita tidak mampu kehilangan apa yang sekarang kita punyai?

P.s: kadang berharap saya bisa memadam masa lalu. Supaya tidak terus mengganggu.

Posted by ShoZu

2 ulasan:

kitt berkata...

Itu bisa dimengerti, namun apabila dibilang ke orang yang kedua datang, dengan kata "Tidak pernah terjadi hujan, kemaren cuman gerimis"..itu yang salah.
Ketika yang kedua mengetahui bahwa yang pertama ternyata hujan deras juga, maka dia berhak untuk mempertanyakan...kenapa harus bilang bahwa itu cuman gerimis?

amber berkata...

oh my god, i love this post. i feel like someone actually feels the same as i do. :)

#27

My current favourite writer: Fiersa Besari. Sederhana, cerdas dan mengena. If you haven't read any of his works, you should. ...