Selasa, Oktober 09, 2012

The tale of the missing telekung



"Kak Farina..."

"Yes?"

"Kat sini ada jual telekung tak?" Kami di Alamanda, Putrajaya. Not an ideal place to hunt for telekung. Kalau ada pun, pastinya mahal setengah mati.

"Entah, rasa macam tak ada. Kalau ada pun, mahal kot. Kenapa nak beli telekung?"

"Telekung saya hilang." Diam. "Sekarang tengah tak boleh solat, tapi lepas ni..." Hening. Dia tertunduk.

Aku sedikit terhenyak. Maksudnya selama ini, dia hanya punya 1 pasang telekung, yang dicuci setiap kali 'cuti' bulanan? Ya Allah. Alangkah malunya aku ini yang sering merasa tidak cukup dengan apa yang aku punya, selalu menginginkan lebih disaat orang lain cukup dengan 1 perangkatan solat? Malu. Sedih. Terharu.

Untuk dia, aku berikan dulu telekung milikku, Alhamdulillah dia tidak keberatan.

Dan sesungguhnya dia, dan 2 lagi temannya, adalah rezeki Allah kepada aku dan teman-teman, untuk belajar bersyukur, belajar berbagi, belajar sabar, belajar hidup. Terima kasih, ya robb.

Semoga selalu terpelihara di atas paksi niat kami, ya Allah.

1 ulasan:

pikir kool berkata...

aah bila tgk org yg kurang drpd kita baru sedar betapa banyaknya sebab utk bersyukur.

March 2017 - 'Ada Apa Dengan Jogja?' (Part 2.5)

Honestly tho, I have nothing much to say about the show, except what everyone would already know...It was AH-MAY-ZINGGGG!!! *fangirling mod...